Kata Cinta Bukanlah Cinta
Anda bisa berteori tentang cinta atau menulis puisi cinta.
Tapi cinta tak mungkin dikatakan atau dijelaskan.
Apa yang bisa dikatakan atau
dijelaskan tentang cinta bukanlah cinta.
Anda bisa saja mengatakan dengan penuh gelora kepada orang
yang Anda cintai, “Sayang, aku mencintaimu.” Anda merasakan kenikmatan yang
tiada tara..... saat mengatakannya..... wew.....
Orang yang Anda cintai barangkali bersemangat
mendengarnya dan menemukan kenikmatan yang sama. Tapi semua kata-kata tentang
cinta atau penjelasan tentang cinta bukanlah cinta itu sendiri.
Ada pepatah, “Ungkapkan cinta dengan bunga.” Lalu orang
mudah terbius dengan bunga. Tetapi bunga bukanlah cinta itu sendiri. Ungkapan
cinta bukanlah cinta itu sendiri. Kata atau ungkapan cinta bisa membius orang,
tetapi kata atau ungkapan cinta bukanlah cinta itu sendiri.
Cinta dan Perasaan
Kalau Anda mencintai atau dicintai, bukankah Anda memiliki
berbagai macam perasaan? Ada rasa bahagia, merasa berbunga-bunga, merasa
berharga, hidup terasa berwarna, dan seterusnya......?
Apakah cinta sama dengan perasaan atau emosi?
Apakah cinta sama dengan perasaan atau emosi?
Kalau cinta identik dengan perasaan, bukankah cinta selalu
berubah-ubah?
Sekarang cinta, besok benci. Begitu terus berganti. Apakah cinta
sebagai lawan dari benci sungguh cinta? Bukankah apa yang berlawanan masih
mengandung
tak tau ah jawabannnya?
Tidak ada perasaan yang tetap. Semua perasaan terus bergerak
dan berubah. Kemarin Anda bergelora karena cinta. Sekarang cinta menjadi luntur
atau merosot. Cinta yang luntur atau merosot bisa berubah menjadi benci pada
waktu tertentu dan pada waktu lain kebencian bisa berubah menjadi cinta yang
bergelora kembali. Apakah sesungguhnya cinta bisa merosot atau bisa bergelora
kembali? Bukankah perasaan cintalah yang merosot atau bergelora kembali, tetapi
bukan cinta itu sendiri?
Amatilah gerak perasaan Anda, perasaan cinta atau perasaan
benci, ketika itu muncul. Bagaimana rasanya hati terbakar oleh cinta atau
benci? Bukankah rasa benci yang membakar hati tidak berbeda dengan rasa cinta
yang membakar hati? Bukankah keduanya menggoncang dan memperkeruh batin?
Amatilah gerak perasaan itu dan biarkan berhenti dengan
sendirinya. Bukankah ketika perasaan tidak lagi membelenggu Anda, entah
perasaan cinta atau perasaan benci, kepekaan muncul dalam hati? Bukankah hati
yang mampu mencinta adalah hati yang peka?




