TV online rudi

Minggu, 15 Juli 2012


Kata Cinta Bukanlah Cinta

Anda bisa berteori tentang cinta atau menulis puisi cinta. 
Tapi cinta tak mungkin dikatakan atau dijelaskan. 
Apa yang bisa dikatakan atau dijelaskan tentang cinta bukanlah cinta.
Anda bisa saja mengatakan dengan penuh gelora kepada orang yang Anda cintai, “Sayang, aku mencintaimu.” Anda merasakan kenikmatan yang tiada tara..... saat mengatakannya.....   wew.....
Orang yang Anda cintai barangkali bersemangat mendengarnya dan menemukan kenikmatan yang sama. Tapi semua kata-kata tentang cinta atau penjelasan tentang cinta bukanlah cinta itu sendiri.
Ada pepatah, “Ungkapkan cinta dengan bunga.” Lalu orang mudah terbius dengan bunga. Tetapi bunga bukanlah cinta itu sendiri. Ungkapan cinta bukanlah cinta itu sendiri. Kata atau ungkapan cinta bisa membius orang, tetapi kata atau ungkapan cinta bukanlah cinta itu sendiri.



Cinta dan Perasaan
Kalau Anda mencintai atau dicintai, bukankah Anda memiliki berbagai macam perasaan? Ada rasa bahagia, merasa berbunga-bunga, merasa berharga, hidup terasa berwarna, dan seterusnya......?
Apakah cinta sama dengan perasaan atau emosi?
Kalau cinta identik dengan perasaan, bukankah cinta selalu berubah-ubah? 
Sekarang cinta, besok benci. Begitu terus berganti. Apakah cinta sebagai lawan dari benci sungguh cinta? Bukankah apa yang berlawanan masih mengandung 
tak tau ah jawabannnya?
Tidak ada perasaan yang tetap. Semua perasaan terus bergerak dan berubah. Kemarin Anda bergelora karena cinta. Sekarang cinta menjadi luntur atau merosot. Cinta yang luntur atau merosot bisa berubah menjadi benci pada waktu tertentu dan pada waktu lain kebencian bisa berubah menjadi cinta yang bergelora kembali. Apakah sesungguhnya cinta bisa merosot atau bisa bergelora kembali? Bukankah perasaan cintalah yang merosot atau bergelora kembali, tetapi bukan cinta itu sendiri?
Amatilah gerak perasaan Anda, perasaan cinta atau perasaan benci, ketika itu muncul. Bagaimana rasanya hati terbakar oleh cinta atau benci? Bukankah rasa benci yang membakar hati tidak berbeda dengan rasa cinta yang membakar hati? Bukankah keduanya menggoncang dan memperkeruh batin?
Amatilah gerak perasaan itu dan biarkan berhenti dengan sendirinya. Bukankah ketika perasaan tidak lagi membelenggu Anda, entah perasaan cinta atau perasaan benci, kepekaan muncul dalam hati? Bukankah hati yang mampu mencinta adalah hati yang peka?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar